Kamis, 28 Juni 2018

DIKSI HATI

DIKSI HATI


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Di bawah sinar rembulan
Kuhangatkan mahligai rasa
Menjadi senja di kala berdua
Merangkai diksi 
Berpuisi tentang elok parasmu
Pikat rasa tertambat pada pelupuk matamu
Berharap dengingan membelai jiwa
Biar rasa tak menyesak

Aku jatuh cinta padamu
Mata hatiku berdiksi pada bayangan cantikmu
Ilusi wajahmu mengambang di ruang khayalku
Berharap untaian kata cinta disantunkan

Aku tak tahu
Mengapa hanya sinar rembulan itu yang bercahaya cinta
Dari banyaknya cahaya

Akan kutuangkan aksaraku pada kertas pink
Menyapa cantikmu di ruang teduhmu

Diksi itu kamu
Kamu yang didambakan rasa
Yang temu tatap denganku di jalan asmara

Biarkan diksi sajakku berhuni direlung hatimu
Merajut kasih
Merangkai alur cerita
Melukis senja.

SI HITAM USANG BERTALI PUTIH

Si Hitam Usang Bertali Putih


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Warna hitam penuh usang
Bertali putih merona
Membalut kaki di kala berpijak
Mengukir perjalanan raih gapai
Mengarungi samudra yang berombak
Mendaki puncak beralun asa
Mengurai senyum di kala bertepi
Melantunkan ucapan terimakasih buat si hitam usang bertali putih

Kesetiaanya bawa nian diriku
Melangkah temu asa
Menjadi benteng di kala kerikil dan lumpur menghadang
Bersenyaman tamah

Aksara sajakku bersajak tentang engkau
Teman di kala tempur kunjung
Tak kenal waktu dan ruang
Setiamu tak mampu kuapatiskan

Karenamu khayal senja berhasil kugapai.

Rabu, 27 Juni 2018

U J I A N 

Karya : Herman Syukur Zai


Resah dan gelisah memenuhi ruang fikirku
Jiwaku seakan melayang di atas keputus-asaan
Ketika ujian datang menyapa di depan ambang
Menguji insan yang duduk di tempat pustaka ilmu
Jemariku kaku dan samar mengulas balik tumpukan buku yang penuh goresan istilah dan metode

Detik waktu kian sampai pada menitnya
Mengabarkan bahwa ujian siap menguji

Ujian tak mengenal kata belum siap
Ujian tak mengenal cengeng
Dan ujian juga tak mengenal rasa kasihan
Karena ujian senantiasa datang pada waktunya

Kedatangannya untuk menguji takkan bisa dihentikan, kecuali kita berhenti menggali ilmu

Akankah aku siap untuk diuji?
Sedangkan mentalitas dan logikaku belum siaga
Akankah aku sukses untuk diuji?
Sedangkan tumpukan buku yang penuh kosakata ilmu belum ditransfer ke memori kehidupan

Sesal sudah telat dimakan waktu
Waktu takkan lagi berpihak kepadaku
Kesempatan luangku telah aku tuang dengan manisan kesenangan
Aku terbuai oleh rayuan manis naluri duniawi

Tapi, harus apalagi?
Semuanya telah sirna dimakan waktu dan naluri duniawi
Penyesalan tak berujung asa

Ulasan balik tumpukan buku kosakata ilmu pun hanya seketika
Hanya doa pada Sang Khalik yang bisa kuheningkan
Agar diberi curahan siaga mentalitas dan logika pada jiwaku yang telah dilanda rasa sesal dan putus asa

Ujian sudah di depan ambang mata
Semoga aku pulang dengan membawa kado kesuksesan buat keluarga besarku.

PERGIMU MENYIKSA RINDUKU

PERGIMU MENYIKSA RINDUKU


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Senja telah sembunyikan raut wajahnya
Malam kian larut dan kiat petang
Ufuk cahaya yang dulu berkisah
Pergi ditemani remang rembulan malam
Dia yang terindah dulu 
Tak lagi rajut kisah dengan rasaku
Cerita indah telah sirna ditelan waktu
Senja tak berpihak padaku
Pergi bersanding dengan yang lain
Cahaya cinta yang dulu seluas angkasa
Semisteri segitiga bermuda
Lukiskan luka dalam kata
Luapkan sesak dalam jiwa
Dia yang dulu bersyair diaksaraku
Tak lagi mengalun sendu
Pergi bersenandung pada melodi lain
Bercerita tentang cinta
Pergimu menyiksa rinduku
Tapi, harus berkata apa?
Takdir tak meridhoi percintaan kita.

RINDUKU ITU KAMU

RINDUKU ITU KAMU

Karya : Herman Syukur Zai


Rinduku itu kamu
Kamu yang merasa dan dirasa
Tak perlu diucapkan
Tak usah diperagakan

Rinduku itu kamu
Kamu yang terindah
Yang menjelajah angan piluku
Adakah rindu dihatimu seperti hati yang kurasakan?

Rinduku itu kamu
Kamu yang kunanti
Walau jiwaku penat menggebu
Yang bergetar di relung hati

Rinduku itu kamu
Yang menyiksa dan menyesakkan jiwa
Hasrat ingin memelukmu
Rinduku itu kamu yang mengalun sendu bersama syair rinduku.