Rabu, 13 Juli 2022

BERISIK!

Penulis : Herman S. Zai

 

Kau tahu apa yang tak boleh?

Kala jarimu terus menghantui kata-kataku

Perkata, tapi cukup meyakinkanku

Sungguh tak berkelu

 

Kali ini tidak lagi seperti tawa yang dulu

Yang pada musim merindu

Tak lagi menjamu kecupan sendu

Entahlah, aku kira ini pemberitahuan tak bernada

 

Kataku, “berisik!”

Kala itu jarimu terus menghantui kata-kataku

Kuulangi, kesekian, dan kali terakhir

Taka ada kelopak yang tak berjatuh

 

Gunungsitoli, 14 Mei 2022

Senin, 08 Juli 2019

MENANTI REMBULAN

MENANTI REMBULAN

Karya : Herman Syukur Zai

Bersama rindu, aku menuang segala kata
Bersama kata, aku menuang segala rasa
Tertawa rindanglah, wahai rembulan
Biarkanlah angin malam, meluluhkan segala ragu
Datanglah! Kembalilah!
Di pertepian jalan asmara ini, aku duduk mengharap
Pulanglah! Baliklah!
Di sini, aku sedang terbaring menunggu.

KATAMU

KATAMU

Karya : Herman Syukur Zai

Gelak rayu
Pada kata yang merayu
Gegap gempita
Pada kata yang rancak

Termangu pada alunan frasa
Menembus duri sukma
Menggema-mengena kalbu
Pikat tambat terpaku

Runcing katamu
Bercahaya dalam senja
Memeluk gravitasi hati
Pada titik temu kata

Aku diam tertunduk
Kalbuku remuk merindu
Menghembus pelan
Oh, katamu.

PENGKHIANAT KATA

PENGKHIANAT KATA

Karya : Herman Syukur Zai

Kala hening merangkul sedih
Raga terduduk memangku ragu
Merindumu tanpa tahu kapan temu
Menyematkan kata rindu di alam tunggu

Kemana dikau?
Bermain rayu bak pujangga
Merayu bunga di taman melati
Menanam rindu di telaga tawar

Kini, kau tak muncul
Terganti gelap memakan cahaya
Sendu pilu menyepi di lamunan
Kemana katamu, kemana dirimu.

Minggu, 11 November 2018

TENTANG CINTA 

Karya : Herman Syukur Zai 

Bersama ceritaku yang tak bertajuk
Dalam rangkaian sajak 
Ku memeluk bintang-bintang
Hingga teja meredup 

Tentang cinta siang itu 
Di persimpangan rerumahan 
Tersiratkan, namun tidak tersurat 
Mendesak segera, di hatimu, membujuk hadir

Pada gemintang rahayu 
Kudawaikan astu-astu asa pada payoda
Kala senandung merindu 
Menjelajahi angan pilu

Jikalau air bah meredakan denyut 
Beta tetap kuarungi 
Padamu beta hidup 
Dan padamu beta bercerita 

Meriam rindu meliar 
Areta renjana berpadu 
Lalu lalang lelangkahku 
Menghampiri cawan rasa

Cinta yang beta tahu
Tak sekedar definisi
Raga dan jiwa berani beradorasi
Bukan ucap semata anitya

Panji-panji jeruji pun berdewala 
Atma pun pernah hilang bentuk 
Pada rahasia buana
Beta deklarasikan sajak senja sejoli

Dan pada hamparan kalbu
Beta meracik kata
Menjamu peraduanmu 
Di tempat mahligai 

Teja berdiri tegak 
Meridhoi percintaan
Mengikrarkan serpihan renjana 
Lagu-lagu berderu melodi 

Tentang beta dan kamu 
Telah lama ditulis di nabastala takdir 
Tinggal dirajut dari paduan puing cina 
Dikekalkan hingga beta mati.

Kamis, 28 Juni 2018

DIKSI HATI

DIKSI HATI


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Di bawah sinar rembulan
Kuhangatkan mahligai rasa
Menjadi senja di kala berdua
Merangkai diksi 
Berpuisi tentang elok parasmu
Pikat rasa tertambat pada pelupuk matamu
Berharap dengingan membelai jiwa
Biar rasa tak menyesak

Aku jatuh cinta padamu
Mata hatiku berdiksi pada bayangan cantikmu
Ilusi wajahmu mengambang di ruang khayalku
Berharap untaian kata cinta disantunkan

Aku tak tahu
Mengapa hanya sinar rembulan itu yang bercahaya cinta
Dari banyaknya cahaya

Akan kutuangkan aksaraku pada kertas pink
Menyapa cantikmu di ruang teduhmu

Diksi itu kamu
Kamu yang didambakan rasa
Yang temu tatap denganku di jalan asmara

Biarkan diksi sajakku berhuni direlung hatimu
Merajut kasih
Merangkai alur cerita
Melukis senja.

SI HITAM USANG BERTALI PUTIH

Si Hitam Usang Bertali Putih


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Warna hitam penuh usang
Bertali putih merona
Membalut kaki di kala berpijak
Mengukir perjalanan raih gapai
Mengarungi samudra yang berombak
Mendaki puncak beralun asa
Mengurai senyum di kala bertepi
Melantunkan ucapan terimakasih buat si hitam usang bertali putih

Kesetiaanya bawa nian diriku
Melangkah temu asa
Menjadi benteng di kala kerikil dan lumpur menghadang
Bersenyaman tamah

Aksara sajakku bersajak tentang engkau
Teman di kala tempur kunjung
Tak kenal waktu dan ruang
Setiamu tak mampu kuapatiskan

Karenamu khayal senja berhasil kugapai.

Rabu, 27 Juni 2018

U J I A N 

Karya : Herman Syukur Zai


Resah dan gelisah memenuhi ruang fikirku
Jiwaku seakan melayang di atas keputus-asaan
Ketika ujian datang menyapa di depan ambang
Menguji insan yang duduk di tempat pustaka ilmu
Jemariku kaku dan samar mengulas balik tumpukan buku yang penuh goresan istilah dan metode

Detik waktu kian sampai pada menitnya
Mengabarkan bahwa ujian siap menguji

Ujian tak mengenal kata belum siap
Ujian tak mengenal cengeng
Dan ujian juga tak mengenal rasa kasihan
Karena ujian senantiasa datang pada waktunya

Kedatangannya untuk menguji takkan bisa dihentikan, kecuali kita berhenti menggali ilmu

Akankah aku siap untuk diuji?
Sedangkan mentalitas dan logikaku belum siaga
Akankah aku sukses untuk diuji?
Sedangkan tumpukan buku yang penuh kosakata ilmu belum ditransfer ke memori kehidupan

Sesal sudah telat dimakan waktu
Waktu takkan lagi berpihak kepadaku
Kesempatan luangku telah aku tuang dengan manisan kesenangan
Aku terbuai oleh rayuan manis naluri duniawi

Tapi, harus apalagi?
Semuanya telah sirna dimakan waktu dan naluri duniawi
Penyesalan tak berujung asa

Ulasan balik tumpukan buku kosakata ilmu pun hanya seketika
Hanya doa pada Sang Khalik yang bisa kuheningkan
Agar diberi curahan siaga mentalitas dan logika pada jiwaku yang telah dilanda rasa sesal dan putus asa

Ujian sudah di depan ambang mata
Semoga aku pulang dengan membawa kado kesuksesan buat keluarga besarku.

PERGIMU MENYIKSA RINDUKU

PERGIMU MENYIKSA RINDUKU


Kąŗყą : Heɾʍąŋ Sყųƙųr Ząí


Senja telah sembunyikan raut wajahnya
Malam kian larut dan kiat petang
Ufuk cahaya yang dulu berkisah
Pergi ditemani remang rembulan malam
Dia yang terindah dulu 
Tak lagi rajut kisah dengan rasaku
Cerita indah telah sirna ditelan waktu
Senja tak berpihak padaku
Pergi bersanding dengan yang lain
Cahaya cinta yang dulu seluas angkasa
Semisteri segitiga bermuda
Lukiskan luka dalam kata
Luapkan sesak dalam jiwa
Dia yang dulu bersyair diaksaraku
Tak lagi mengalun sendu
Pergi bersenandung pada melodi lain
Bercerita tentang cinta
Pergimu menyiksa rinduku
Tapi, harus berkata apa?
Takdir tak meridhoi percintaan kita.

RINDUKU ITU KAMU

RINDUKU ITU KAMU

Karya : Herman Syukur Zai


Rinduku itu kamu
Kamu yang merasa dan dirasa
Tak perlu diucapkan
Tak usah diperagakan

Rinduku itu kamu
Kamu yang terindah
Yang menjelajah angan piluku
Adakah rindu dihatimu seperti hati yang kurasakan?

Rinduku itu kamu
Kamu yang kunanti
Walau jiwaku penat menggebu
Yang bergetar di relung hati

Rinduku itu kamu
Yang menyiksa dan menyesakkan jiwa
Hasrat ingin memelukmu
Rinduku itu kamu yang mengalun sendu bersama syair rinduku.